Advertisement

Saturday, May 14, 2016

Vacancy for External evaluator CMLP Project

TOR EVALUASI AKHIR
COMMUNITY MANAGED LIVELIHOOD PROMOTION PROJECT FASE II
(JULI 2014 – JUNI 2016)
 
1. LATAR BELAKANG
1.1. Konteks Kalimantan
Kalimantan, jugadikenaldengannama Borneo, adalahsalahsatupulauterbesar di Indonesia. Pulauinisangatpopulerdenganhutanhujantropisdanbahanpertambangan, sebuahpulau yang makmurdan kaya akansumberdayaalamnyasepertiemas, batubara, dll. Ironisnyasumberdayaalammelimpahinitidakberbandinglurusdengankesejahteraanmasyarakatterutamamereka yang tinggal di pedesaandanpedalaman Kalimantan.Buruknyainfrastrukturdanpendidikansertamasihbanyaknyawilayah yang belummendapatkanpasokanlistriknegaraadalahcontohkecildarimasalah yang dihadapi.Disisilaineksploitasitanpahentiterhadapsumberdayaalamkianmenimbulkanbanyaknyapotensibencanakerusakanlingkungan.
Selainitukebijakanekonomipemerintahcenderungberpihakpadakepentingan investor yang mengendalikankekayaanalam Kalimantan.Kondisiiniterangsajasemakinmeminggirkankepentinganmasyarakatakarrumput.Ketidakpastianhukumterhadaphak-hakmasyarakatadat, kekerasanetnisdanpenggusurantanahmenjadipemberitaan yang takkunjunghenti di media.
Kendatisecarakegempaan Kalimantan dinyatakansebagaiwilayahteraman di Indonesia namunbukanberartiwilayahiniamandariancamanbencana.Pulau Kalimantan sebagianbesarmemilikicirikhaslahangambutdenganhutan-hutan yang sudahbanyakmengalamiperubahanfungsimenjadiwilayahpemukimandanperkebunan.Keberadaanhutansemakinterancamolehexpansiperkebunankelapasawitdanpertambanganbauksit di kawasankonservasi.Akibatnyaancamanbanjir, banjirbandang, longsor, kebakaranhutandankekeringansemakinharisemakinmeningkat.
Masyarakatdesa yang menggantungkanhidupdanpenghidupannyapadasumberdayaalamdenganpengelolaantradisionalmenjadikelompokmasyarakat yang paling rentandengankerusakanlingkungantersebut.Faktor-faktorkerentananmerekaberanekaragam.Merekarentankarenakehilanganaksesterhadaphutanadat, rentankarenakualitastanahtempatmerekabertanisemakinmenurun, rentankarenaperubahanpolatanamakibatmusim yang tidakmenentu, danrentankehilangantanahsebagaiasetpribadidankeluarga.Orang-orang menghadapikenyataanbahwamerekakehilangansumber air, daerahkurangproduktifuntukpertanian, hutangunduldanmerekakehilangansumberpendapatanmereka.
1.2. Konteks Project
Proyek CMLP mendukungupaya-upaya livelihood yang berkelanjutanterutamabagi orang-orang paling miskinataumarjinal di komunitasmelaluipengembangankapasitaslokaldanpengorganisasianmasyarakatmelaluikelompok-kelompok. Livelihood dari orang-orang miskindapatberkelanjutanapabilakegiatan livelihood tersebutmemenuhiapa yang menjadiaspirasimereka, memampukanmerekapulihdaritekananataugoncangan, memampukanmerekauntukmengeloladanmenguatkankemampuan (capabilitas) dankepemilikansumberdaya (aset) untukkesejahteraanmerekasaatinimaupun di kehidupanmasamendatang, dengantidakmenurunkankualitassumberdayaalam[1].
Model proyek CMLP telahdikembangkandandiujicobaoleh Caritas KeuskupanSibolga (CKS) daritahun 2008 denganmengadopsipendekatan ‘community managed’. Caritas Austria, selakulembaga donor pendukungproyek CMLP yang dijalankan CKS di Nias, melihatpembelajarandari model CMLP menarikjikadireplikasi di wilayahdampinganKeuskupanlain di Indonesia. KARINA KWI sebagailembaga yang mengkoordinasikegiatanjaringankeluarga Karitas-Karitas Keuskupan di Indonesia merekomendasikan agar mereplikasi model CMLP tersebut di Kalimantan Barat. Ada dua Caritas Keuskupan yang diusulkanmelakukan pilot proyek CMLP di Kalimantan Barat yaituKeuskupanAgung Pontianak (CAKAP) dan Caritas KeuskupanKetapang (CKK).
KARINA bersama Caritas Keuskupanpelaksanameyakini model proyek CMLP memberikanpeluangbesarbagikomunitasdampinganterutamakelompokmasyarakatmarjinaluntukmemperbaikitingkatdankualitashidupdanpenghidupannyadengancara-cara yang lebihmendidikdanterorganisirdenganmemperhatikankearifanlokalmasyarakatsetempat.Proyek CMLP fase I sudahterlaksana di periode April 2012 – Maret 2014 yang lalu, dandilanjutkandenganfase II yang berlangsungselamaperiodeJuli 2014 – Juni 2016.
Adapungoal dariproyek CMLP fase II iniadalah “Pembangunan masyarakat Kalimantan Barat yang resilienmelaluipeningkatankesejahteraanmasyarakat (promosi livelihood) denganperlindunganlahandanpertanianselarasalam”. Wilayah dampinganterdiridari 6 komunitasdampingan : 4 komunitas di wilayahdampingan Caritas KeuskupanKetapangdan 2 komunitas di wilayah Caritas KeuskupanAgung Pontianak.
a.      Kegiatanbesaran :
1.      PeningkatankapasitasdanpenguatanOrganisasiMasyarakat (KSM) melaluipenyegarankepemimpinandanpengembanganorganisasi, pendampingan community organizing, MonEv, kegiatanberjejaring yang partisipatif.
2.      Peningkatansumberpendapatananggota KSM, melaluibudidayakaretunggul (SekolahLapang&pendampingan), pertaniantanamanmuda di lahanperorangan, home gardening, sertapengenalanakanpengolahanbahanpangan local.
3.      Peningkatankapasitasanggota KSM dalampengelolaanekonomirumahtangga (keterlibatandalam CU, danpenyusunanbukukashariankeluarga)
4.      Penyadaranpentingnyamempertahankanwilayah/kampungdariekspansipihakluar. Salah satuupayanyadenganmelakukansosialisasi, pemetaanwilayah, SKT, pembibitantanaman local untukpenghijauandanpemanfaatanlahankosong.
2. TUJUAN EVALUASI AKHIR
2.1. TujuanUmum
Tujuanumumkegiatanevaluasiakhirproyek CMLP adalahuntukmenilaiapakahproyekberjalansesuaitujuan yang direncanakan, mencaritahuapakahterdapat gap selamaimplementasiproyek, menarikpembelajarandanpraktekbaik, sertamerumuskanrekomendasiuntukperbaikan di masamendatang.
2.2. TujuanKhusus
Secarakhususkegiatanevaluasiakhirproyekakanmenilairelevansi, standarimplementasi, efektifitas, efisiensi, dampakdankeberlanjutanproyek.
·         Relevansiberkaitandengansejauhapaintervensi CMLP sesuaidengankebutuhanmasyarakatsetempatdansesuaidenganisu livelihood prioritas yang dimunculkandalamintervensiproyek.
·         Standarpelaksanaandalamhalkuantitas, kualitas, target danpencapaian.
·         Efektivitasberkaitandengansejauhapatujuanproyektercapai. Apafaktorfaktor yang mempengaruhipencapaiantujuanproyek CMLP. Sejauhapastrategi yang diterapkandalamproyek CMLP efektifuntukmencapaisasaranproyek, termasuk di dalamnyastrategipendampingankepenerimamanfaat.
·         Efisiensiberkaitan input yang disediakanolehproyekdan output yang dihasilkan. Melihatapakahproyektelahdilaksanakandengancaralebihefisiendibandingkandenganalternatifproyeklainnya.
·         Dampakberkaitandenganperubahan-perubahanpositifdanpraktekbaik yang terjadidalamkomuitasdampingansebagaikonsekuensidariintervensi program CMLP baik yang secaralangsungmaupuntidaklangsung.
·         Sustainabilitasataukeberlanjutanmanfaat program. Iniberkaitandenganpotensi yang bisadikerahkanuntukmeneruskanmanfaat program saat donor ataupendampingantidaklagiada.
 
3. SASARAN EVALUASI
1. Caritas KeuskupanAgungPontianak :komunitaskampungBaturaya (KSM Riapm Ne Majo) &komunitaskampungSerong
2. Caritas KeuskupanKetapang :komunitaskampungGiet (KSM Siling PancorAji), SeiBansi (KSM PatehBanggi), Kontok (KSM UncakKontok), Jangat (KSM KakJaka)
 
4. TAHAPAN EVALUASI
 
4.1   Persiapan: Mencakup pertemuan persiapan dengan Karina dan review dokumen Karina yang berkaitan dengan perencanaan, analisis, pelaksanaan dan evaluasi proyek.
 
4.2              Laporan: Mencakup sosialisasi maksud dan tujuan evaluasi kepada komunitas dan observasi di lapangan.
 
4.3              Laporan akhir: Analisis atas hasil observasi dan persiapan laporanakhir
 
 
5. METODA DAN ANALISIS
 
5.1              Review atas dokumen Karina yang terkait dengan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pelaksanaan proyek.
5.2              Surveydan observasi dengan metode sampling atas sejumlah kelompok dampingan melalui wawancara dengan sejumlah narasumber.
5.3              Metode Preskriptif: Memberikan penilai yang professional terhadap proyek mengenai keseluruhan desain Community Managed Livelihood Promotion Project (CMLP).
 
6        TANGGUNGJAWAB EVALUATOR
 
Evaluator bertanggungjawab secara professional atas jasa yang diberikan. Secara umum, tanggungjawab evaluator adalah sebagai berikut:
1)      Melakukan review atas dokumen Karina berkaitan dengan perencanaan, analisa, pelaksanaan dan evaluasi atas proyek.
2)      Mengembangkan teknis wawancara yang tepat.
3)      Melakukan koordinasi terpadu atas keseluruhan aktivitas evaluasi dan memberitahukan updates perkembangan evaluasi kepada Karina-KWI.
4)      Mendiskusikan draft hasil akhir dengan Karina-KWI
5)      Menyerahkan hasil akhir evaluasi datadanrekomendasihasilevaluasi, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris secara tepat waktu.
 
7        JADWAL DAN KUALIFIKASI EVALUATOR
 
7.1              Waktu Pelaksanaan
 
Kegiatan ini akan dilaksanakan selama 20 (dua puluh) hari kalender pada bulan Juni – Juli 2016.
 
7.2              Kualifikasi
 
Untuk memperoleh hasil evaluasi yang optimal, kegiatan ini memerlukan tenaga yang kompeten dengan kualifikasi sebagai berikut:
1)      Ahli dibidang pemberdayaan masyarakat, khususnyapemberdayaanekonomidanlingkungan.
2)      Ahli di bidangbudidayakaretunggul&budidayatanamanmuda
3)      Memiliki pengalaman dalam mengevaluasi dan menganalisis dampak dankeberlanjutan program pemberdayaam masyarakat minimal 5 tahun.
4)      Memahami karya pelayanan lembaga-lembaga social gereja.
 
8        PRODUK KEGIATAN EVALUASI
 
Hasil yang diminta dari kerja evaluator adalah:
1)      Kompilasi informasi dari observasi, meeting note dan wawancara
2)      Laporan hasil akhir tertulis dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris yang berisi detail temuan dan kesimpulan atas evaluasi dengan rekomendasi yang realistis dan berguna bagi pembelajaran Karina-KWI di masa mendatang.
 
 
9        PENANGGUNGJAWAN KEGIATAN
 
Penanggung jawab kegiatan evaluasi eksternal ini ada Karina-KWI.
 
 
10    RENCANA BIAYA DAN SISTEM PEMBAYARAN
 
Total  biaya yang dapat kami tawarkanuntukevaluasiiniadalahsebesarRp. 70.000.000(tujuhpuluhjuta rupiah) sudahtermasukpajak.
Biaya-biayainimencakup, Fee Evaluator danseluruhbiayaperjalanansertaakomodasiselamamelakukanevaluasi.
SistemPembayarannyadapatdilakukandengan 3 termijn:
 
1)      Termin I: Sebesar 20% (dua puluh persen) setelah MoU ditandatangani
2)      Termin II: Sebesar 30% (tiga puluh persen) disaatakandilakukan field visit lapanganyaitudenganditerimanyarencana/schedule visit lapangan.
3)      TerminIII :Sebesar 50% (lima puluhpersen) setelahseluruhlaporan final diterima.
 
 
11    PENUTUP
 
Karina-KWI meminta agar evaluator menyerahkan dokumen penawaran yang mencakup kelengkapan Curriculum Vitae, Penawaran metodologi evaluasi dan penawaran biaya paling lambat 20 Mei 2016ke alamat :
ATAU ANTAR LANGSUNG KE YAYASAN KARINA
YAYASAN KARINA, Jl. Matraman No 31, KebonManggis, Matraman, Jakarta Timur, 13150
 
 



[1]Saragih, Sebastian. 2010. PelatihanPengenalanPendekatan Sustainable Livelihood. Indonesia. Circle Indonesia, hal 20

No comments:

Post a Comment