Analisis
Tutupan Lahan Menggunakan Citra Satelit Resolusi Tinggi
Di
Kawasan Hutan Lindung Buleleng
Pengantar
Lutheran
World Relief (LWR) sedang menjalankan proyek Penguatan Lembaga Pengelolaan
Hutan Desa di Kabupaten Buleleng. Proyek ini dilaksanakan melalui penguatan
pengelolaan sumberdaya alam di bentang kawasan Hutan Lindung Buleleng yang
bertujuan untuk memperkuat pengelolaan dan pelestarian hutan oleh masyarakat
dengan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.
Pengelolaan
suatu kawasan dilaksanakan melalui perencanaan pengelolaan berdasarkan
ketersediaan data-data baik berupa kondisi biodiversitas, tutupan lahan, sosial
ekonomi, perubahan penggunaan lahan dan sebagainya. Informasi mengenai tutupan
lahan dan perubahan penggunaan lahan dapat diketahui melalui kajian penggunaan
lahan.
Saat
ini 4 desa di Kabupaten Buleleng, Propinsi Bali, yaitu Desa Panji, Desa Panji
Anom, Desa Sambengan, dan Desa Ambengan telah mengajukan usulan pengelolaan
Hutan Desa kepada Menteri LHK dan sudah melalui tahapan verifikasi teknis oleh
Direktorat Penyiapan Kawasan Perhutanan Sosial (PKPS) dan Balai Perhutanan
Sosial dan Kemitraan Lingkungan Wilayah Jawa Bali dan Nusa Tenggara (BPSKL
Jabal Nusra) pada bulan September yang lalu.
Perkembangan
perubahan tutupan lahan suatu wilayah dapat dianalisis dengan memanfaatkan data
penginderaan jauh (remote sensing)
berupa citra satelit multitemporal. Menurut (Petit et al. 2001) pemanfaatan
teknologi penginderaan jauh merupakan salah satu cara untuk mengetahui secara
cepat alih fungsi lahan. Perkembangan perubahan tutupan lahan sangat penting
untuk diketahui, agar pola perubahan tutupan lahan dimasa datang dapat
diprediksi sehingga perubahan penutupan lahan yang bersifat negatif dapat
dicegah atau dikurangi. Oleh karena itu perlu upaya untuk mengetahui
perkembangan perubahan tutupan lahan di kawasan hutan lindung Buleleng,
sehingga dapat dianalisis perubahan tutupan lahan yang terjadi.
Untuk
mencapai tujuan tersebut, maka LWR memerlukan para profesional untuk melakukan kajian
dan survey terhadap tutupan lahan di kawasan hutan lindung buleleng, terutama
pada 4 (empat) calon areal kerja hutan desa yang sedang diusulkan.
Tujuan
Tujuan dari survey ini adalah ;
1.
Mengetahui
tutupan lahan Hutan Buleleng pada citra satelit tahun 1998, 2008 dan 2018
2.
Mengkaji
dan mengetahui besaran perubahan tutupan lahan secara spasial di kawasan Hutan
Lindung Buleleng pada periode 1998, 2008 dan 2018
3.
Melakukan
prediksi perubahan lahan yang akan terjadi pada periode berikutnya
Ruang Lingkup Pekerjaan
1. Lingkup
Pekerjaan
a)
Merancang rencana survei, metodologi dan
instrumen survey tutupan lahan
b)
Melakukan pengumpulan data baik data sekunder
atau data kualitatif primer dari lapangan
c)
Bekerja sama dengan Program Manager, Project
Coordinator dan Field Coordinator dalam persiapan survey lapangan.
d)
Mengawasi proses pengumpulan data dan
pelaporan untuk menjamin tujuan survey dicapai.
e) Menyajikan
hasil laporan kualitatif data survey kepada Program Manager LWR
2. Outputs
-
Dokumen laporan survey tutupan lahan di
kawasan hutan lindung buleleng, terdiri dari analisis lansekap, kualitatif dan
kuantitatif
Kualifikasi Konsultan
1. Memiliki pemahaman dan penguasaan yang
baik mengenai penginderaan jauh dan Geograhic
Information System (GIS)
2. Memiliki kemampuan untuk melakukan
analisis tutupan lahan secara deskriptif serta langkah pemecahan masalah yang
tepat sesuai dengan kerangka kerja dan output yang diinginkan
3. Bagi team leader, memiliki pengalaman
dalam melakukan supervisi tim kerja
4. Memiliki kemampuan untuk membuat
laporan secara komprehensif sesuai dengan output yang ingin dicapai
5. Dapat bekerja dalam tim maupun bekerja
individu
6. Memiliki kemampuan komunikasi yang
cukup baik
7. Memiliki akses terhadap data dan
informasi yang dibutuhkan dalam survey tutupan lahan
Lokasi
Survey ini dilaksanakan di kawasan Hutan Lindung Buleleng
yang mencakup 4 (empat) areal kerja hutan desa di kecamatan Sukasada, Kabupaten
Buleleng, Propinsi Bali, yatu;
1. Desa panji
2. Desa Panji Anom
3. Desa Sambengan
4. Desa Ambengan
Hasil Yang Diharapkan
Hasil yang diharapkan melalui
pelaksanaan survey ini adalah ;
1. Data
perubahan lahan yang terjadi di wilayah hutan lindung Buleleng dan sekitarnya.
2. Peta
tutupan lahan Lansekap Buleleng
Metodologi Pelaksanaan
Kegiatan
Tujuan dari interpretasi turupan lahan
adalah untuk mendapatkan informasi detail mengenai penggunaan lahan pada setiap
jenis tutupan lahan. Pada kegiatan interpreatsi citra terdapat minimal 3
rangkaian kegiatan yakni deteksi, identifikasi dan analisis. Tahapan pada
kegiatan analisis tutupan lahan dilakukan dengan cara berbeda karena citra yang
digunakan memiliki perbedaan yaitu citra Landsat 5 dan citra Landsat 8.
Proses interprestasi tutupan lahan
diawali dengan pengadaaan bahan interpretasi Citra Landsat yang dibeli dan
telah dilakukan koreksi Geometrik dan Radiometrik. Tahapan selanjutnya citra
yang telah melalui proses koreksi akan diolah oleh analis tutupan lahan.
Selanjutnya akan dilakukan pengecekan lapangan untuk memverifikasi penggunaan
lahan pada tahun 1998, 2008 dan 2018 dengan cara purposive sampling. Secara lengkap tahapan proses analisis tutupan
lahan adalah sebagai berikut:
1. Pra
Pengolahan
Kegiatan ini dilakukan oleh penyedia layanan pengadaan citra
satelit yang dengan menyampaikan permohonan penawaran citra Landsat untuk periode
10 tahun dari tahun 1998-2008 dan 2018. Pekerjaan vendor tersebut meliputi:
1.1. Mosaik
Citra
Mosaik citra merupakan proses yang
bertujuan untuk menggabungkan beberapa citra secara bersamaan membentuk
kesatuan (satu lembar) peta atau citra yang kohesif dan koorinatnya terkoreksi.
Mosaik dilakukan karena lokasi yang direncanakan di analisis berada pada pada
path dan raw yag berbeda 128/59 dan 128/60.
1.2. Pemotongan
citra (Cropping)
Proses cropping dilakukan untuk mendeliniasi batas lokasi kawasan yang
akan dianalisis yakni lansekap hutan buleleng, meliputi hulu sungai dan DAS di
sekitarnya.
1.3. Koreksi
Geometri
Tahap ini bertujuan agar citra Landsat
yang digunakan dalam analisis memiliki spesifikasi koordinat yang sama dengan
koordintat yang digunakan pada dasar dan GPS (Global Positoning System). Koreksi dilakukan berdasarkan acuan peta
dasar (sungai dan jalan yang juga dikenali pada peta Landsat).
1.4 Koreksi
Radiometrik
Koreksi Radiometrik merupakan proses
untuk memperbaiki kualitas visual citra, dalam hal memperbaiki nilai piksel
yang tidak sesuai dengan nilai pantulan atau pancran spektral objek yang
sebenarnya. Koreksi akan dipengaruhi oleh lima faktor yakni: pantulan atau
reflektasi objek, bentuk dan besaran interaksi atmosfer, kemringan dan arah
hadap lereng, sudut pandang sensor, dan sudut ketinggian matahari.
2. Pengolahan
Data Secara Visual
Kegiatan ini dilakukan oleh konsultan analisis, untuk
memperoleh jenis tutupan lahan dimana nantinya akan digunakan untuk analisis
besaran perubahan lahan dalam kurun waktu setiap 10 tahun. Interpretasi secara
visual (manual) dilakukan terhadap data penginderaan jauh yang berdasrkan pada
pengenalan ciri/karateristik objek secara keruangan. Karakteristik objek dapat
dikenali berdasarkan 9 unsur interpretasi yaitu bentuk, ukuran, pola, bayangan,
rona/warna, tekstur, situs, asosiasi dan konvergensi bukti. Tahapan pada
analsisi secara visual adalah dengan menggunakan teknik kombinasi RGB. RGB yang
digunakan disesuaikan dengan informasi yang diinginkan.
2.1 Penyusunan
komposit warna
Penyusunan komposit warna diperlukan
utuk mempermudah interpretasi citra. Susunan komposit warna dari kanal citra
inderaja minimal terdapat kanal inframerah dekat untuk mempertajam penampakan
unsur vegetasi.
2.2 Penajaman
digital (Digital Enhancement)
Tahapan ini berisi penajaman digital yang
bertujuan utnuk mendapatkan kualitas visual dan vaiabilitas spekral citra
menjadi lebih baik.
3. Pengolahan
data secara digital
Pengolahan data secara digital yang dimaksud adalah proses
klasifikasi sebagai salah satu tahapan pada interpretasi. Klasifikasi yang
ditawarkan kepada pelaksana pekerjaan analisis citra mengacu pada SNI 7645-2010
tentang Klasifikasi Penutup Lahan.
Metode pekerjaan klasifikasi yang diharapkan pada pelaksana adalah
sebagai berikut:
3.1 Klasifikasi
tidak terbimbing (Unsupervised)
Klasifikasi tidak terbimbing
(unsupervised) dilakukan dengan mengelompokkan piksel pada citra menjadi
beberpa kelas hanya berdasarkan perhitungan statistik tertentu tanpa menentukan
sampel piksel (trainning) yang digunakan oleh komputer sebagai acuan untuk
melakukan klasifikasi.
3.2 Klasifikasi
terbimbing (Supervised)
Klasifikasi terbimbing merupakan proses
pengelompokan piksel pada citra menjadi beberapa kelas tertentu dengan
berdasarkan statistik sampel piksel (trainning) atau region of interest ditentukan oleh pengguna
Calon
konsultan yang berminat dapat mengirimkan proposalnya dengan mencantumkan
informasi antara lain seperti di bawah ini:
Proposal
yang diharapkan mencakup tetapi tidak terbatas pada:
1. Metode pengumpulan data
2. Susunan team survey dengan CV
masing-masing
3. Biaya yang dibutuhkan
4. Waktu pengerjaan
5. Metode pembayaran
Proposal dan CV dikirimkan paling lambat tanggal 31 January 2019
ke JobsIndo@lwr.org dan hanya candidate yang terpilih yang akan dihubungi. Mohon untuk tidak menghubungi via phone atau email.

No comments:
Post a Comment